Tradingan.com - Perlahan, Merry membuka kancing depan celananya dan perlahan menurunkannya, akhirnya celana itu jatuh di kakinya, lalu dengan air mata meleleh di pipi Merry menarik turun celana dalamnya, sehingga sekarang ia betul-betul telanjang bulat. Merry berusaha menutupi kemaluan dan buah dadanya dengan tangannya. Tapi Botak menggerak-gerakan pisaunya, menyuruh Merry menurunkan tangannya. Merry langsung menurunkan tangannya, dan sekarang Botak dan Hitam berjalan mengelilinginya mengagumi tubuhnya.
“Coba sekarang Non berlutut dan merangkak ke temen saya di sana!” perintah Botak, dan Merry menuruti perintahnya, ia merangkak dengan tangan dan lututnya mendekati Hitam yang tinggi dan besar.
“Nah, sekarang coba Non, masukin punya teman saya itu ke mulut Non. Jilatin sama isep, sampe dia keluar. Kalo nanti di keluar, Non musti telen semuanya, jangan sampe ada yang kebuang. Dan ati-ati jangan sampe punya temen saya itu kegigit. Kalo sampe kegigit, terpaksa saya potong puting susu Non!”Merry kembali shock, ia belum pernah memasukkan penis ke dalam mulutnya. Perasaannya muak membayangkan memasukan penis ke dalam mulutnya, ia lebih ketakutan mendengar ancaman Botak yang akan memotong puting susunya jika ia tidak menuruti perintahnya.
“Si, si, siap Tuan”, jawab Merry sambil meraih kancing celana Hitam.
“Tunggu”, tiba-tiba Hitam berkata, membuat Merry berhenti kebingungan.
“Minta ijin dulu dong Non!”.
Merry menangis lagi, melihat dirinya sedang dilecehkan oleh kedua orang itu. Ia takut sekali akan terus-menerus mengalami ini.
“Bo, bo, boleh saya jilat punya Tuan?”, Merry berusaha mengeluarkan suara ditengah isak tangsinya. Pipi Merry tampak berkilat-kilat basah oleh air mata.
“Yah, silakan deh”, jawab Hitam.
“Soalnya Non sopan sekali sih mintanya.” Jari-jari Merry gemetar berusaha melepaskan kancing celana Hitam, setelah berhasil restleting celana Hitam langsung terbuka dengan sendirinya. Melihat apa yang keluar dari celana itu, tidak heran restleting celana tadi tidak bisa menahan apa yang ada di dalamnya. Celana dalam Hitam sudah turun dengan sendirinya tidak mampu menahan penis Hitam yang sudah tegang sekali. Di depan mata Merry, penis itu mengacung dengan panjang sekitar 25 cm, dengan urat-urat yang menonjol. Penis itu tampak berkilau-kilau ditimpa cahaya api unggun. Kepala penis itu sendiri berdiameter sekitar 8 cm. Hitam tertawa melihat wajah Merry memucat melihat penisnya.
“Lho, Non, katanya mau..”, kata Hitam tidak sabar. Tidak tahu bagaimana memulainya, Merry memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya yang mungil ke kepala penis tadi, dan mulai menciuminya. Merry terus menciumi selama beberapa saat, kemudian ia mengeluarkan lidahnya lalu ia menjilati batang penis Hitam. Sambil menelan ludah, Merry sekarang membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukan kepala penis tadi ke dalam mulutnya, sedangkan lidahnya terus menjilati. Nafas Hitam sekarang semakin berat dan terengah-engah, sementara itu Merry terus menjilati kepala penisnya, sesaat dirasakannya sesuatu yang asin di ujung penis Hitam. Merry berusaha melupakan apa yang baru dijilatnya, sambil menutup matanya erat-erat, bibirnya menempel disekeliling penis tuannya yang baru. Baca selengkapnya!

0 Response to "Kisah Ngewe Cewek di Antara Jakarta dan Bandung 2"
Posting Komentar